Raut wajah Laura terlihat sangat buruk, dirinya tampak jauh lebih lesu. Jimmy berjalan mendekat dan berkata, "Turut berduka," lalu bertanya, "Kenapa nggak masuk kalau sudah telanjur datang? Kenapa malah diam di mobil?""Aku nggak masuk." Laura memaksakan senyum tipis, lalu menggeleng, "Aku datang untuk bertemu klien. Katanya dia sedang menghadiri acara di sini, jadi aku menunggunya di sini.""Siapa?" Jimmy tersenyum, "Mau aku bantu panggilkan supaya dia keluar dan bicara denganmu?""Nggak perlu repot, aku tunggu saja." Laura menggeleng lemah, "Aku nggak punya maksud lain, cuma kebetulan melihatmu, jadi sekalian menyapa."Laura memang tersenyum, tapi senyumnya sangat dipaksakan.Melihat ekspresinya seperti itu, Jimmy tidak bisa menahan rasa iba. Dia memang bukan wanita luar biasa, tapi setidaknya berasal dari keluarga terpandang. Dulu Laura memang sombong, tapi dalam setiap gerak-geriknya masih terlihat penuh percaya diri.Sekarang, dia tampak kehilangan kepercayaan diri, seperti orang
Read more