Mobil hitam mewah itu perlahan memasuki gang sempit yang sangat akrab di ingatan Adam. Rumah tua dengan arsitektur lawas itu berdiri tegak, bekas kos-kosan peninggalan kakeknya yang dulu menjadi tempat Adam memulai segalanya sebagai "si culun"."Sudah kubilang, aku saja yang ke sini, Are. Gangnya sempit, kamu pasti gerah," ujar Adam sambil mematikan mesin, melirik Areta yang tampak kesulitan menyesuaikan posisi duduknya karena perut yang sudah besar."Aku mau lihat tempat persembunyian suamiku dulu. Lagipula, aku tidak mau kamu sendirian di sini, nanti ada yang naksir 'si mekanik' ini lagi," goda Areta sambil terkekeh, tangannya erat menggenggam lengan Adam.Begitu mereka turun, suasana hangat khas pemukiman padat langsung menyambut. Bau masakan tetangga dan suara anak-anak bermain menciptakan nostalgia tersendiri. Namun, kehadiran mereka dengan pakaian yang, meski santai bagi mereka, tetap terlihat mahal bagi orang awam, menarik perhatian."Lho! Ini Mas Adam, ya?" teriak seorang
Mehr lesen