Satu bulan telah berlalu sejak kepergian Areta, dan bagi Adam, setiap harinya terasa seperti hukuman mati yang diperpanjang. Laporan dari Luna di Paris selalu sama: “Belum ada tanda-tanda, Pak. Kota ini terlalu luas.”Adam bukanlah pria bodoh. Ia mulai mencium ketidakkonsistenan dalam suara Luna. Ia tahu Luna sangat menyayangi Areta, dan ia curiga sekretaris setianya itu sedang bermain dua kaki untuk melindungi perasaan sang istri.Di ruang kerjanya yang dingin, Adam menatap kalender digital. Empat hari ke depan adalah jadwal kosong yang langka. Ia memanggil sekretaris pengganti Luna, seorang pria muda yang kaku.“Batalkan semua janji temu saya untuk empat hari ke depan. Bilang pada dewan direksi saya sedang ada urusan keluarga yang sangat mendesak di luar kota. Dan satu lagi,” Adam menatap tajam pria itu, “jangan katakan sepatah kata pun pada Luna atau siapa pun bahwa saya mengambil libur ini. Mengerti?”“Baik, Pak Adam.”Tanpa pengawalan, tanpa jet pribadi yang mencolok, dan ta
Mehr lesen