Sore harinya, mereka berkumpul di ruang tengah. Papa Rajes tampak sibuk mengambil foto sang cucu dari berbagai sudut, sementara Mama Veronica bolak-balik memastikan sup sehat untuk Areta tersedia.“Arkadia, lihat Kakek,” ujar Rajes dengan suara yang dipaksakan imut—sesuatu yang belum pernah dilihat Areta sebelumnya dari sosok ayahnya yang kaku.Areta bersandar di bahu Adam, menikmati keramaian kecil di rumahnya. Tidak ada lagi suasana sepi yang dingin. Sekarang, rumah itu penuh dengan suara tawa, diskusi tentang popok, dan rencana masa depan.“Rasanya aneh ya, Adam,” bisik Areta. “Dulu kita hanya bicara tentang persaingan bisnis, sekarang kita bicara tentang kapan Arkadia harus menyusu.”Adam mencium pelipis istrinya. “Itulah indahnya hidup, Are. Kita sudah selesai menjahit masa lalu yang retak, sekarang saatnya kita menikmati pakaian kebahagiaan yang baru ini.”Di tengah kehangatan itu, Arkadia menggeliat kecil dan membuka matanya, seolah menyadari bahwa ia kini telah berada di
Ler mais