Tembakan pertama memecah ruang—bukan dari Leonhardt, tapi dari Schwarz. Cepat. Tanpa aba-aba. Peluru menghantam rak logam di samping kepala Leonhardt—dentum keras, logam bergetar, debu jatuh seperti hujan tipis. Leonhardt sudah bergerak sebelum gema hilang; tubuhnya merendah, bergulir ke samping, pistol terangkat—balasan. Bang.Schwarz mundur setengah langkah, bukan karena panik—karena mengukur. Ruang arsip berubah; bukan lagi tempat penyimpanan, tapi medan sempit. Rak menjadi perlindungan, kertas beterbangan, lampu merah berkedip—memotong waktu jadi potongan pendek yang gelisah.Leonhardt menahan napas. Mendengar. Langkah. Gesekan sepatu. Jarak.Schwarz tidak terburu-buru—dan justru itu yang membuatnya berbahaya. Ia berjalan tenang, seolah peluru hanyalah bagian dari percakapan.“Kau masih mengandalkan refleks,” suaranya datang dari balik rak. “Bukan keputusan.”Leonhardt menggeser pecahan kaca kecil di lantai, memiringkannya. Pantulan. Bayangan. Cukup. Ia melihat siluet itu—satu det
Read more