Langit Berlin malam itu terasa terlalu rendah. Seolah menekan kota dengan beban yang tak terlihat. Hujan tipis membasahi atap-atap tua, memantulkan cahaya lampu jalan menjadi kilau kusam yang bergetar di jendela loteng tempat mereka bersembunyi. Di dalam— udara hangat, tapi tegang. Margarethe berdiri di depan papan kayu besar yang dipenuhi potongan kertas, foto, dan garis-garis benang merah yang saling bersilangan seperti jaring laba-laba. Semua mengarah ke satu titik kosong. Satu nama— yang belum punya wajah. Leonhardt menutup telepon berkode di tangannya. Klik. Sunyi. “Kontak Stockholm tidak memberi nama,” katanya datar. “Tapi simbol ini…” ia menunjuk lambang kecil di salah satu dokumen, “…muncul berulang di arsip Edelglas.” Adelheid yang duduk di kursi reyot, kaki terlipat, mencondongkan tubuh. “Simbol tanpa nama. Organisasi tanpa wajah. Orang-orang ini benar-benar tidak suka diperkenalkan, ya.” Margarethe tidak tersenyum. Tatapannya terpaku pada foto hitam putih
Read more