Kabut pagi menggantung rendah di tepi pelabuhan Hamburg. Gudang tua itu berdiri membisu di antara derek-derek baja yang menjulang seperti rangka raksasa. Cat dindingnya mengelupas. Pintu logamnya berkarat. Tak ada tanda kehidupan— kecuali jejak ban baru di genangan air asin. Bau solar dan besi tua menusuk udara dingin. Di balik tumpukan peti kayu, tiga bayangan berjongkok rapat. Leonhardt mengamati pola gerak di lapangan terbuka. Tatapannya menyapu konstan—kiri, kanan, atas—menghitung jarak, mengukur jeda. Empat penjaga. Seragam hitam polos. Tanpa insignia. Tanpa identitas. Profesional. Adelheid mencatat di buku kecil lusuhnya. Pensilnya bergerak cepat, presisi. “Rotasi dua menit tiga puluh detik,” bisiknya. “Penjaga timur pincang ringan. Kemungkinan cedera lama.” Margarethe membuka gulungan cetak biru usang. Ujung kertasnya robek, warnanya menguning dimakan waktu. “Struktur dalamnya masih sama,” ucapnya pelan. “Ruang arsip bawah tanah di sisi barat. Satu a
Read more