"Pak Dimas, kita sudah mematahkan kaki dua pecundang kiriman Grup Atmaja. Salah satu dari mereka juga punya istri yang lumayan."Dimas melanjutkan, "Nggak salah. Wanita itu memang cantik dan menyegarkan seperti bunga mawar. Aku menikmatinya selama seminggu penuh."Senyum Hilman semakin lebar mendengar itu."Ada satu lagi, yang kubuat jadi mandul. Kalau kali ini cuma dibuat patah kaki saja, apa nggak terlalu gampang?"Dimas memegangi dagunya, berpikir sejenak."Kalau begitu, patahkan kaki ketiganya juga.""Siap, Pak Dimas, tolong mundur sedikit. Saksikan keahlianku."Hilman menggulung lengan bajunya, mengencangkan otot lengan, dan berbalik menghadap Dhana. Seketika itu juga, dia membeku kaku seperti papan, terdiam seolah disambar petir.Sial, dia terlambat mengenali lawannya. Hari ini adalah hari kematiannya.Ternyata orang itu Dhana, si iblis pembawa sial. Beberapa hari yang lalu di pesta pernikahan, dia dan tiga pendekar bela diri lainnya mencoba menyergap Dhana bersama-sama.Hasilnya
Read more