“Kamu suka sama dia?” Sekonyong-konyong aku memberondongnya.“Iya.” Jawaban Nashwa membuat dadaku terbakar. Bisa-bisanya dia secara terang-terangan mengatakan rasa suka pada laki-laki lain di depan suaminya sendiri. “Nash?” Aku meraih bahunya, meminta kejelasan. Entah seperti apa raut wajahku sekarang. Tapi dia tetap terlihat tenang. “Kenapa?” Dia bertanya dengan cuek. “Kamu suka sama dia?” tanyaku lagi. “Ya suka lah, dia kan baik. Baik akhlaknya, baik agamanya, baik pendidikannya, prestasinya juga baik, emang Mas nggak tau dia siapa?” “Emang dia siapa?” tanyaku ketus. Mulai mengurangi intonasi suara. “Ilham Khoirul Aufa, dia itu muadzin muda, dai muda juga, kayaknya beberapa kali diundang di acara tv deh.” Dia menjawab dengan santai. Tanpa peduli dadaku yang naik turun karena kesal. Mungkin kalau digambarkan dalam film kartun, telingaku sudah berasap. “Terus hubungan kamu sama dia sudah sejauh mana?” “Hubungan apa? Nggak ada hubungan apa-apa, kok.” Dia mengangkat bahu. “Ka
Last Updated : 2025-12-02 Read more