Lounge hotel itu nyaris kosong di tengah minggu yang sepi. Hanya beberapa tamu bisnis yang duduk berjauhan, sibuk dengan laptop atau telepon mereka. Lampu temaram dan musik jazz instrumental menciptakan suasana rileks. Namun bagi Dara, setiap bayangan terasa seperti ancaman.Dia duduk di sudut paling belakang, memesan teh chamomile, mencoba menenangkan sarafnya yang masih bergetar setelah berita tentang Riani. Rasa nekat yang membawanya keluar dari kamar, kebutuhan untuk merasa seperti bagian dari dunia normal, meski hanya untuk sesaat.Tidak lama setelah pesanannya datang, seorang wanita mendekati mejanya. Wanita itu cantik, dengan gaya yang berkelas namun tidak berlebihan. Dia tersenyum ramah. “Sendirian aja, Mbak? Boleh ikut gabung?”Dara, yang instingnya sudah lebih waspada, mengamati wanita itu sekilas. Tidak ada tanda-tanda ancaman, hanya seorang wanita yang mungkin juga merasa sendirian.“Iya,” jawab Dara, suaranya datar
Last Updated : 2026-01-26 Read more