Udara dingin dari AC berdesis lembut, bercampur dengan aroma alkohol yang tersisa dan parfum Reva yang tajam—oud dan bunga. Saat Reva menariknya ke kamar 208 dan memutar kuncinya, Arkha berdiri terpaku, punggungnya hampir menempel pada pintu kayu yang dingin.“Reva, please …”“Nggak sekarang, Reva. Aku harus—” protes Arkha, suaranya campur aduk antara desakan dan kelelahan. Tapi kata-katanya terpotong.“Kamu harus apa, Arkha?” bisiknya, napasnya hangat dan beraroma alkohol manis menyentuh kulit leher Arkha.Reva mendorongnya dengan lembut namun pasti, hingga punggung Arkha menempel di pintu kayu yang dingin. Lampu kamar tidak dinyalakan, hanya cahaya lampu temaram yang menyelinap dari celah tirai, membelah kegelapan dan menyinari separuh wajah Reva. Di cahaya redup itu, matanya berkilau seperti kaca. Dingin, tajam, dan penuh perhitungan.Tangannya yang halus meraba kerah kemejanya, lalu dengan gerakan lambat yang
Last Updated : 2026-01-27 Read more