Rendra memutuskan ciuman, napasnya memburu. Bibirnya berpindah, melukis jalan basah di sepanjang garis rahang Dara, turun ke leher, di mana denyut nadinya berdetak liar di bawah kulitnya yang mulus. Dia menjilat, menggigit lembut, mendengar Dara menghela napas pendek.“Aku selalu siap untukmu,” bisik Rendra, suaranya serak oleh hasrat, sementara tangannya menjelajahi lekuk dan lengkung tubuh di hadapannya. “Tubuhku mengenalimu lebih baik daripada akalnya sendiri.”Tangannya turun, meraih paha Dara, mengangkatnya dengan mudah. Dara melingkarkan kaki di pinggang Rendra, mengunci tubuh mereka dalam satu kesatuan yang erat. Posisi itu membuat mereka sepenuhnya terbuka, rapuh dan disatukan oleh hasrat, lalu saling mendukung.Rendra memasuki dirinya dengan gerakan perlahan namun pasti, sebuah penyatuan yang membuat mereka berdua mendesis, menahan napas. Di sini, di dalam kabut, dengan air yang masih menetes dari pancuran yang belum dimatikan, mere
Last Updated : 2026-02-08 Read more