Pintu Kedai Bintang Samudera menutup dengan bunyi berat—duk. Suara itu tidak keras, namun cukup untuk memutus dunia di luar, seolah malam sengaja dikunci bersama mereka yang tertinggal di dalam.Keheningan pun mewarnai suasana suram kedai makanan ini.Bukan keheningan yang damai, bukan pula hening setelah hujan. Ini adalah keheningan yang mengandung rasa takut—belum berwujud, belum bernama, namun sudah menekan dada seperti tangan tak kasatmata.Meja-meja terbalik. Pecahan piring dan mangkuk berkilau pucat di lantai, memantulkan cahaya lampu minyak yang bergoyang lemah. Bau arak tumpah bercampur dengan debu kayu retak, menyengat hidung.Di tengah puing-puing itu, Zhao Shin berdiri tegak.Posturnya tetap anggun, jubah bangsawan masih rapi, namun sesuatu pada dirinya telah berubah. Senyum santai yang biasa ia kenakan—senyum seorang pangeran yang terbiasa menang—lenyap tanpa sisa. Hanya tersisa sorot mata dingin, tajam, seperti baja yang baru saja diasah.Tatapan seorang penguasa.Seseoran
Last Updated : 2025-12-13 Read more