Felly menarik napas panjang sambil membenarkan kancing blusnya yang sempat terlepas. Ujung jarinya sedikit gemetar, entah karena sisa lelah atau karena ingatan akan bagaimana Marvin tadi nyaris tak memberinya jeda. Rambutnya ia rapikan sekadarnya, meski beberapa helai tetap jatuh berantakan di pelipis.“Mas, lain kali kalau cemburu, jangan segitunya,” keluh Felly pelan, suaranya serak dan napasnya belum sepenuhnya stabil.Marvin yang masih duduk di sofa hanya melirik sekilas, rahangnya mengeras. Dasi sudah tak lagi melingkar di lehernya, kemeja terbuka di bagian atas, memperlihatkan jejak-jejak kecil yang belum sempat disamarkan.“Kamu yang mulai,” jawabnya singkat. “Memuji laki-laki lain di depan saya.”Felly mendengus kecil, setengah kesal, setengah ingin tertawa. Ia merapikan roknya yang sedikit kusut, lalu melirik Marvin dengan tatapan mengeluh yang sama sekali tak terdengar meyakinkan.“Cuma bilang tampan saja. Masa balasannya seperti ada dendam kesumat begitu, sih?”Marvin berdi
Last Updated : 2026-01-11 Read more