Malam turun dengan sunyi yang tebal. Rumah Wiratama kembali tenang di permukaan, tapi di balik dinding-dindingnya, masing-masing menyimpan kegelisahan sendiri. Arga belum lama berbaring ketika suara ketukan terdengar di pintu kamarnya —pelan, tapi disengaja.Tok. Tok.Arga membuka pintu. Tampak Aluna kembali berdiri di depan kamarnya, kali ini tanpa lipatan tangan. Rambutnya tergerai, wajahnya kosong, tapi sorot matanya tajam.“Kamu capek?” tanyanya datar.Pertanyaan itu terdengar biasa. Terlalu biasa. Arga tahu, itu bukan perhatian.“Sedikit,” jawabnya jujur.Arga ingat sudah mau jam sepuluh, tapi kenapa nona muda rumah itu masih kelayapan sampai mengunjungi kamarnya. Aluna mengangguk pelan, lalu melangkah masuk tanpa izin. Pandangannya menyapu kamar kecil itu —ranjang sempit, lemari tua, meja belajar sederhana.“Pantas,” gumamnya. “Orang sepertimu memang cocoknya di ruangan seperti ini.”Arga diam.“Kau tahu,” lanjut Aluna, berdiri di dekat meja, jarinya menyentuh ujung buku catata
Last Updated : 2026-01-22 Read more