Malam turun perlahan, membawa kesunyian yang terasa lebih berat dari biasanya. Arga kembali ke kamarnya, menutup pintu, lalu bersandar sesaat di baliknya. Dadanya naik turun lebih dalam dari yang ia inginkan.'Kau akan ada.'Kalimat itu bukan perintah. Bukan juga permintaan. Tapi, justru itu yang membuatnya berbahaya.Arga meraih handuk kecil, mengusap wajahnya, lalu duduk di tepi ranjang. Ia memejamkan mata, mencoba menata kembali pikirannya —menarik garis, menegaskan batas. Namun setiap kali ia berusaha, wajah Aluna yang pucat, suara napasnya yang tertahan, dan tatapan matanya yang lelah terus menyusup tanpa izin.Ia menghembuskan napas panjang. “Ini salah,” gumamnya pelan, seolah sedang menegur dirinya sendiri.Di kamar seberang, Aluna berbaring miring, satu tangan menekan perutnya. Mual itu belum sepenuhnya hilang, tapi yang lebih mengganggu adalah kekacauan di kepalanya.Arga tidak panik. Tidak berisik. Tidak membuatnya merasa rapuh.Ia hanya berdiri di sana —siap, tapi tidak mem
Last Updated : 2026-01-29 Read more