Pagi datang tanpa kehangatan. Cahaya matahari menyelinap lewat celah tirai rumah kediaman Wiratama, tapi udara di dalamnya tetap terasa dingin —dingin yang bukan berasal dari cuaca, melainkan dari jarak yang sengaja diciptakan.Arga sudah bangun sejak subuh. Ia membersihkan dirinya cepat, mengganti pakaian dengan kemeja sederhana yang sudah disetrika rapi, lalu turun ke dapur. Bu Siti belum terlihat, jadi ia menyiapkan air panas, menyeduh teh, dan menata meja makan seperti biasa. Urusan makanan, sudah menjadi urusan Bu Siti dan pembantu lainnya. Arga hanya membersihkan dan merapikan yang terlihat berantakan. Tidak ada yang memintanya. Tapi, juga tidak ada yang akan berterima kasih.Ketika jam dinding hampir menunjukkan pukul tujuh —setelah para pekerja rumah menempati posisi masing-masing, langkah sepatu terdengar dari tangga.Aluna muncul dengan wajah datar, rambut disanggul asal, mengenakan pakaian rumah longgar. Matanya langsung menangkap Arga yang berdiri di dekat pintu dapur. “
Last Updated : 2026-01-25 Read more