Arga menarik napas pelan, nyaris tak terdengar di balik suara deru mesin. Kalimat Aluna barusan tidak diucapkan dengan nada menyalahkan, tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih tajam.“Menghindar,” ulangnya pelan —sempat menengok ke arah Aluna. Bukan bertanya, lebih seperti menguji rasa kata itu di lidahnya.Namun, Aluna tidak menoleh. “Aku sudah cukup lama tinggal di rumah yang sama dengan orang-orang yang selalu menghitung napasku. Beberapa hari di tempat Tante Ratna … setidaknya aku bisa bernapas tanpa diawasi.”Arga mengangguk kecil. Ia paham maksudnya. Rumah besar itu memang tidak pernah memberi ruang aman —hanya ruang yang diatur. Bahkan, Aluna tidak sampai berpikir untuk pergi ke rumah Tika, bibi dari ayahnya, seolah wanita itu juga memiliki kepribadian yang tak jauh berbeda dengan kedua orang tuanya.“Kalau itu keputusanmu,” kata Arga akhirnya, hati-hati, “itu bukan menghindar. Itu bertahan dengan caramu sendiri.”Aluna tersenyum tipis, hampir tak terlihat. “Kau pandai me
Last Updated : 2026-02-11 Read more