Langkah Arga terhenti tepat di depan pintu ruang kerja Tn. Wiratama. Ruangan itu selalu memberi kesan sama —rapi, dingin, dan penuh kendali. Seperti pemiliknya.“Masuk,” ujar Tn. Wiratama tanpa menoleh.Arga melangkah masuk, berdiri di jarak yang dianggap aman. Ia tidak duduk. Tidak pernah, kecuali diminta.Tn. Wiratama berdiri membelakanginya, menatap rak buku yang berjejer rapi. “Kau tahu kenapa aku memanggilmu?”“Tidak, Pak,” jawab Arga jujur.“Karena kau mulai dilihat,” kata lelaki itu pelan. Ia berbalik. Tatapannya lurus. Tajam. “Dan di keluarga ini, dilihat bukan hal yang baik.”Arga menunduk sedikit. “Saya tidak berniat menarik perhatian.”“Masalahnya,” lanjut Tn. Wiratama, “niat bukan penentu. Dampak yang menentukan.”Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di hadapan Arga. “Kau tahu kenapa aku memilihmu?”“Karena saya tidak punya apa-apa,” jawab Arga tanpa ragu.“Karena kau bisa dikendalikan,” koreksi Tn. Wiratama datar. “Atau setidaknya, itu yang kupikir.”Arga tidak membantah
Last Updated : 2026-02-05 Read more