Jessie tidak langsung menjawab. Ia hanya mengedip pelan, matanya membesar sedikit. Pipinya memanas, padahal sebelumnya wajahnya sudah cukup panas oleh demam. “Kha-wa-tir?” Jessie mengucapkan dengan susa payah. Suara yang keluar nyaris hanya sebuah bisikan.Bu Ratih tersenyum melihat perubahan ekspresi itu. “Iya, Nyonya,” lanjutnya sambil meniup perlahan bubur di sendok sebelum menyodorkannya. “Tadi Tuan Jacob sudah siap berangkat. Jasnya sudah dipakai, sepatu sudah rapi. Tuan merasa aneh jam 8 nyonya Jessie belum turun, akhirnya Tuan Jacob naik dan membangunkan Nyonya. Tapi begitu lihat Nyonya demam, beliau langsung batal berangkat.”Jessie menelan bubur yang masuk ke mulutnya dengan pelan, meski rasanya sulit karena jantungnya ikut berdebar.“Sekarang beliau ada di ruang tamu,” sambung Bu Ratih, suaranya setengah berbisik seperti menyampaikan rahasia kecil. “Waktu saya memasak bubur tadi, saya lihat Tuan mondar-mandir. Kadang duduk sebentar, lalu lihat jam, terus melihat ke arah kama
最終更新日 : 2025-12-02 続きを読む