Pagi yang cerah, sepulang dari hotel Aditya dan Zahra menyempatkan bertamu ke kediaman kyai sepuh Usman zahid, dari pondok Al hafidz. "Pak kyai, ada tamu" ucap seorang santri, melapor pada kyai sepuh. "Iya, suruh tunggu sebentar ya. Jangan lupa, minta tolong Ning Siti buatkan teh. Nanti kamu suguhkan buat tamunya." pesan, sang kyai. "Siap, pak kyai" jawab santri itu. Mengundurkan diri, dengan sopan. Selang beberapa menit, santri muda itu datang membawa dua gelas teh manis. "Di suruh tunggu sebentar, pak, bu! kata pak kyai!" Ucapnya, ramah. Aditya dan Zahra pun mengangguk, mengiyakan. "Assalamualaikum.." suara serak tapi berkharisma, milik kyai sepuh. Wajahnya teduh, dengan senyuman yang selalu menambah keramahannya. Juga sorban dikepala dan jenggotnya yang mulai memutih, menjadi ciri khasnya. "Wa'alaikumsalam, kek.." ucap Aditya, membuat kyai sepuh menatapnya tajam. Timbul banyak pertanyaan dalam benaknya. Apakah mereka sudah pernah saling kenal sebelumnya, sehingga laki - laki
Baca selengkapnya