Masuk"terimakasih ,nak! Hari ini, sudah membantu ibumu menemukan potongan memory nya yang sempat hilang. Minggu depan, kita ketemu lagi ya" ucap sang kakek, sebelum mereka berpisah. Hari ini, ada haru dan bahagia menjadi satu. Walaupun belum sepenuhnya sembuh, setidaknya ayu Sarah mulai mau menerima memory masa lalunya secara perlahan. Kehadiran Aditya, seolah menghapus luka menganga, yang telah ia rasakan puluhan tahun lamanya. "Kamu hebat, suamiku!" Puji zahra, lalu memeluk erat perut sixpack suaminya. "Hebat, kenapa?" Tanya Aditya. Sambil menyenderkan kepalanya, zahra pun berkata "hebat, bisa bikin Bu ayu Sarah ingat masa lalunya" Sambil terkekeh, Aditya menjawab "kebetulan, dia adalah ibu ku. Jadi wajar kalau, dia kembali ingat kenangan masa kecilku. Walaupun, gak sepenuhnya" ujar Aditya. *** "Aditya..anakku! Aditya..anakku!" gumam Bu ayu Sarah, terus - terusan. mengingat ucapan seorang pria yang mengaku dirinya lah, anak bayi yang puluhan tahun lalu ayu Sarah lahirkan penuh cin
Pagi yang cerah, sepulang dari hotel Aditya dan Zahra menyempatkan bertamu ke kediaman kyai sepuh Usman zahid, dari pondok Al hafidz. "Pak kyai, ada tamu" ucap seorang santri, melapor pada kyai sepuh. "Iya, suruh tunggu sebentar ya. Jangan lupa, minta tolong Ning Siti buatkan teh. Nanti kamu suguhkan buat tamunya." pesan, sang kyai. "Siap, pak kyai" jawab santri itu. Mengundurkan diri, dengan sopan. Selang beberapa menit, santri muda itu datang membawa dua gelas teh manis. "Di suruh tunggu sebentar, pak, bu! kata pak kyai!" Ucapnya, ramah. Aditya dan Zahra pun mengangguk, mengiyakan. "Assalamualaikum.." suara serak tapi berkharisma, milik kyai sepuh. Wajahnya teduh, dengan senyuman yang selalu menambah keramahannya. Juga sorban dikepala dan jenggotnya yang mulai memutih, menjadi ciri khasnya. "Wa'alaikumsalam, kek.." ucap Aditya, membuat kyai sepuh menatapnya tajam. Timbul banyak pertanyaan dalam benaknya. Apakah mereka sudah pernah saling kenal sebelumnya, sehingga laki - laki
"maaf pah, Adit telat!" Ucap Aditya, saat berhasil memasuki ruang persidangan. Aditya memilih duduk di samping ayah, dan juga Zahra istrinya. Ya, Zahra pun ikut datang memberikan dukungan untuk Hermawan dan juga Aditya suaminya. Ine tampak lemas, di kursi pesakitan. Keterangan pembantu tadi, membuatnya tidak bisa berkutik. Sekarang giliran bukti dan saksi dari pihak Ine dikeluarkan. Seorang pembantu lainnya, dari rumah Hermawan didatangkan untuk memberikan keterangan bahwa "Bu Ine, selama ini perempuan baik. Saya tidak percaya, kalau beliau sampai hati membunuh ibu mertuanya sendiri. Itu pasti akan - akalan bapak. Soalnya, yang saya tau bapak memang sejak dulu ingin menyingkirkan istrinya, supaya bisa menikah lagi" ucap pembantu itu, memancing banyak pertanyaan dari jaksa pembela. Keadaan ruang pengadilan pun semakin memanas.hingga terpaksa jaksa penuntut umum, memohon izin kepada pak hakim untuk diperbolehkan memutar video cctv dimana Ine memaksa pembantunya untuk memberikan obat
"Bu ayu sehat, tapi .." Aryo, menggantung suaranya. "Tapi, apa?" Tanya Aditya, pada Aryo. "Saya, share lokasi aja. Silahkan datang ke sini, langsung. Mungkin kehadiran anda, bisa membuat Bu ayu mengingat sesuatu" jawab Aryo, lalu mematikan sambungan teleponnya. Aditya pun gegas membuka, beberapa Poto Bu ayu Sarah yang dikirimkan oleh Aryo secara seksama. Ada rasa nyeri, menelusup di dalam dada. "Duh, gimana? Padahal hari ini, kasus mama digelar. Nyampai gak ya waktunya?" Gumam Aditya. menenggak segelas air putih, menyelesaikan sarapannya. "Loh, mas! Mau kemana?" Tanya, Zahra. Melihat suaminya sudah bersiap untuk pergi. "Oh iya, sampai lupa mau pamitan. Mas ada urusan bentar ya, sayang. Kata Aryo, Bu Ayu Sarah sudah ketemu!" Ujar Aditya. Menyodorkan tangannya pada Zahra, lalu istri cantiknya itu mencium takdzim. "Alhamdulillah, ya sudah sana. Semoga semua urusan mas, hari ini berjalan lancar ya" Ucap Zahra, lalu melambaikan tangannya. Setelah mengantar kepergian suaminya di depan
"karena, kasus pembunuhan terhadap Oma saya!!" jawab Aditya, Membuat semua orang diruangan itu hampir tak percaya. Si Dokter tampan, datang tepat waktu setelah menyelesaikan pekerjaannya di meja operasi. Ketampanan dan kharisma Aditya, membuat semua kamera tak berhenti menyorotnya. Anak dan ayah itu, kini duduk bersanding, di depan para pemburu berita. "Hah? apa iya?" Suara sumbang dan pertanyaan - pertanyaan, memenuhi ruangan itu seketika. "Apa anda yakin, ini bukan akal - akalan ayah anda untuk menyingkirkan Bu ine? Yaitu ibu anda sendiri. seperti yang tertulis di laman - laman gosip beberapa waktu ini?" Tanya seorang pencari berita lainnya, kepada Aditya. "Selama saya hidup, belum pernah saya melihat ayah saya berbuat seculas itu kepada orang lain. Apalagi, kepada istrinya sendiri. Jadi saya pastikan, semua gosip di luaran itu tidaklah benar." jawab Aditya, membuat hati sang ayah tersentuh. Walaupun dia cukup bejat menjadi manusia, ternyata dia tidak gagal menjadi seorang ayah
"Lo dukun ya, sok tau banget!" Gurau Aditya, menutupi kegalauan hatinya. "Ya gak gitu juga. Gue kan Connan! Lo tau kemampuan penyelidikan gue kan?" Timpal aryo. "Eh tapi serius ini. Ada apa sih? Siap gue kalau ada tugas lagi!" Imbuhnya lagi. "Iya ni, yok! Gue mau, lo cari tau orang yang ada di Kk itu. Ayu Sarah!" Pinta, aditya. "Dia anak dari kyai terkenal, di Sumedang sih ceritanya. Tapi di usir keluarganya, gara - gara di ceraiin sama bokap gue. Bukan gara - gara di ceraiin ya sih, tapi lebih ke alasan diceraikannya itu. Katanya sudah bikin malu keluarganya begitu. Gue mau lu cari alamat orang tua atau keluarganya di Sumedang. Cari tau juga, dimana perempuan itu tinggal. Karena kemungkinan besar, dia nyokap gue yok. Minta tolong banget ya yok?!" Ujar Aditya, kepada Aryo. "Iya, gue ngerti. Lo tenang aja, detik ini juga gue gas. Biar rasa penasaran Lo, segera terobati. Oke?!" Hibur Aryo, yang sebenarnya ikut prihatin dengan cerita hidup Aditya yang tidak semua orang tahu. "Oke, gu







