แชร์

chapter 51

ผู้เขียน: Senjaku
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-09 22:42:18

"maaf pah, Adit telat!" Ucap Aditya, saat berhasil memasuki ruang persidangan. Aditya memilih duduk di samping ayah, dan juga Zahra istrinya. Ya, Zahra pun ikut datang memberikan dukungan untuk Hermawan dan juga Aditya suaminya.

Ine tampak lemas, di kursi pesakitan. Keterangan pembantu tadi, membuatnya tidak bisa berkutik.

Sekarang giliran bukti dan saksi dari pihak Ine dikeluarkan. Seorang pembantu lainnya, dari rumah Hermawan didatangkan untuk memberikan keterangan bahwa "Bu Ine, selama in
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 55

    Kriiing..kriiing Silvia memicingkan mata, melihat nama siapa yang keluar di layar pintarnya. Sang mantan kekasih, yang mungkin saja akan menjadi anak tirinya suatu saat. Kriing..kriiing.. Suara bunyi ponsel, sekali lagi membuatnya tersadar dari lamunan. "Halo, dit!" Menahan rasa malunya karena sudah memacari ayah dari mantannya sendiri, Silvia tetap menyapa Aditya. "Halo! Lo lagi dimana?" Tanya Aditya, setelah mendengar suara seorang wanita di ujung telpon. "Lagi di kantor. Kenapa ya?" Ujar silvia, penasaran. "Papa kecelakaan, dari tadi manggil nama Lo. Ini kita lagi di rumah sakit intani. Kira - kira, Lo bisa kesini gak?" Tanya Aditya, berharap Silvia bisa datang karena ayahnya yang terus - terusan memanggil namanya. "Astaga, serius dit? Tolong share lokasi ya. Gue kesana sekarang" ucap Silvia, lalu menutup sambungan telponnya. Aditya segera mengirim lokasi dimana mereka berada sekarang. "Gimana mas? Silvia mau datang?" Tanya Zahra yang sedang bersiap untuk pulang. Tadinya m

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 54

    "permisi! ruangan pak Hermawan, pasien kecelakaan dimana ya?" Tanya Aditya, pada petugas bagian informasi sesampainya mereka di rumah sakit tempat Hermawan dirawat. "Oh, pak Hermawan masih di ruang gawat darurat pak. Dari sini bapak lurus saja mentok, terus belok kiri" jawab, petugas itu. Aditya dan Zahra, gegas menuju ruangan yang disebut. "Dokter, permisi! Bagaimana keadaan papa saya, dok? Saya anaknya pak Hermawan!" Tanya Aditya, sedikit berlari kecil mengejar dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD. "Loh, dokter Aditya?" Tanya dokter itu, alih - alih menjawab pertanyaan Aditya. "Benar, apa kita saling kenal?" Tanya Aditya, pada dokter muda itu. "Perkenalkan, saya Indra Prayoga adik angkatan anda sewaktu kuliah. Mungkin anda tidak mengenal saya, tapi saya tahu anda" jawab dokter indra, memperkenalkan diri. "Jadi, begitu! sorry banget ya, saya nggak notice" ucap Aditya. merasa tidak enak hati, karena tidak mengenali adik angkatannya sendiri. "Tidak apa - apa santai saja.

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 53

    "terimakasih ,nak! Hari ini, sudah membantu ibumu menemukan potongan memory nya yang sempat hilang. Minggu depan, kita ketemu lagi ya" ucap sang kakek, sebelum mereka berpisah. Hari ini, ada haru dan bahagia menjadi satu. Walaupun belum sepenuhnya sembuh, setidaknya ayu Sarah mulai mau menerima memory masa lalunya secara perlahan. Kehadiran Aditya, seolah menghapus luka menganga, yang telah ia rasakan puluhan tahun lamanya. "Kamu hebat, suamiku!" Puji zahra, lalu memeluk erat perut sixpack suaminya. "Hebat, kenapa?" Tanya Aditya. Sambil menyenderkan kepalanya, zahra pun berkata "hebat, bisa bikin Bu ayu Sarah ingat masa lalunya" Sambil terkekeh, Aditya menjawab "kebetulan, dia adalah ibu ku. Jadi wajar kalau, dia kembali ingat kenangan masa kecilku. Walaupun, gak sepenuhnya" ujar Aditya. *** "Aditya..anakku! Aditya..anakku!" gumam Bu ayu Sarah, terus - terusan. mengingat ucapan seorang pria yang mengaku dirinya lah, anak bayi yang puluhan tahun lalu ayu Sarah lahirkan penuh cin

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 52

    Pagi yang cerah, sepulang dari hotel Aditya dan Zahra menyempatkan bertamu ke kediaman kyai sepuh Usman zahid, dari pondok Al hafidz. "Pak kyai, ada tamu" ucap seorang santri, melapor pada kyai sepuh. "Iya, suruh tunggu sebentar ya. Jangan lupa, minta tolong Ning Siti buatkan teh. Nanti kamu suguhkan buat tamunya." pesan, sang kyai. "Siap, pak kyai" jawab santri itu. Mengundurkan diri, dengan sopan. Selang beberapa menit, santri muda itu datang membawa dua gelas teh manis. "Di suruh tunggu sebentar, pak, bu! kata pak kyai!" Ucapnya, ramah. Aditya dan Zahra pun mengangguk, mengiyakan. "Assalamualaikum.." suara serak tapi berkharisma, milik kyai sepuh. Wajahnya teduh, dengan senyuman yang selalu menambah keramahannya. Juga sorban dikepala dan jenggotnya yang mulai memutih, menjadi ciri khasnya. "Wa'alaikumsalam, kek.." ucap Aditya, membuat kyai sepuh menatapnya tajam. Timbul banyak pertanyaan dalam benaknya. Apakah mereka sudah pernah saling kenal sebelumnya, sehingga laki - laki

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 51

    "maaf pah, Adit telat!" Ucap Aditya, saat berhasil memasuki ruang persidangan. Aditya memilih duduk di samping ayah, dan juga Zahra istrinya. Ya, Zahra pun ikut datang memberikan dukungan untuk Hermawan dan juga Aditya suaminya. Ine tampak lemas, di kursi pesakitan. Keterangan pembantu tadi, membuatnya tidak bisa berkutik. Sekarang giliran bukti dan saksi dari pihak Ine dikeluarkan. Seorang pembantu lainnya, dari rumah Hermawan didatangkan untuk memberikan keterangan bahwa "Bu Ine, selama ini perempuan baik. Saya tidak percaya, kalau beliau sampai hati membunuh ibu mertuanya sendiri. Itu pasti akan - akalan bapak. Soalnya, yang saya tau bapak memang sejak dulu ingin menyingkirkan istrinya, supaya bisa menikah lagi" ucap pembantu itu, memancing banyak pertanyaan dari jaksa pembela. Keadaan ruang pengadilan pun semakin memanas.hingga terpaksa jaksa penuntut umum, memohon izin kepada pak hakim untuk diperbolehkan memutar video cctv dimana Ine memaksa pembantunya untuk memberikan obat

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 50

    "Bu ayu sehat, tapi .." Aryo, menggantung suaranya. "Tapi, apa?" Tanya Aditya, pada Aryo. "Saya, share lokasi aja. Silahkan datang ke sini, langsung. Mungkin kehadiran anda, bisa membuat Bu ayu mengingat sesuatu" jawab Aryo, lalu mematikan sambungan teleponnya. Aditya pun gegas membuka, beberapa Poto Bu ayu Sarah yang dikirimkan oleh Aryo secara seksama. Ada rasa nyeri, menelusup di dalam dada. "Duh, gimana? Padahal hari ini, kasus mama digelar. Nyampai gak ya waktunya?" Gumam Aditya. menenggak segelas air putih, menyelesaikan sarapannya. "Loh, mas! Mau kemana?" Tanya, Zahra. Melihat suaminya sudah bersiap untuk pergi. "Oh iya, sampai lupa mau pamitan. Mas ada urusan bentar ya, sayang. Kata Aryo, Bu Ayu Sarah sudah ketemu!" Ujar Aditya. Menyodorkan tangannya pada Zahra, lalu istri cantiknya itu mencium takdzim. "Alhamdulillah, ya sudah sana. Semoga semua urusan mas, hari ini berjalan lancar ya" Ucap Zahra, lalu melambaikan tangannya. Setelah mengantar kepergian suaminya di depan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status