“Dia… memperkosa aku,” ucap Cindy terputus-putus sambil menangis tersedu-sedu. Dadanya sesak, suaranya nyaris runtuh saat kata itu akhirnya keluar. Mengucapkannya saja terasa seperti merobek ulang hatinya. “Hah?” Nathan tertegun. Air mata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Ia menggeleng kecil, seolah menolak kenyataan yang barusan menghantamnya, lalu menatap Cindy dalam-dalam—tatapan yang dipenuhi keterkejutan, amarah, dan rasa bersalah yang datang bersamaan. “Sayang… dia…,” ucap Nathan lagi dengan suara bergetar, tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Pelukannya mengencang, tubuhnya gemetar. Marah, hancur, sedih, dan terluka bercampur menjadi satu malam itu—malam ketika dunia Nathan runtuh tanpa suara, tepat di hadapannya. “Dia memperkosa aku…,” ucap Cindy lagi, suaranya nyaris hilang di antara isak. “Tangan aku diikat kuat di ranjang itu….” Ia mengangkat kedua tangannya perlahan, seolah sisa ikatan itu masih melekat, masih terasa menekan kulitnya. Tangisnya semakin p
Terakhir Diperbarui : 2026-01-30 Baca selengkapnya