Gedung KUA sudah terlihat di ujung jalan. Di perjalanan, Nathan dan Cindy tampak bersemangat sekaligus gugup. “Aneh, padahal ini yang kedua, tapi... kenapa aku gugup, Sayang?” ucap Nathan sambil tertawa pelan. Tangannya yang satu memegang kemudi, sementara yang lain sesekali mengusap tengkuknya yang terasa dingin. “Kamu pikir kamu saja? Aku juga gugup tahu, nggak... Padahal kita cuma ke KUA, nikah, tanda tangan ini itu, dapat buku nikah, selesai. Tapi... rasanya kayak mau naik pelaminan lagi,” ucap Cindy sambil tertawa geli, menyandarkan kepalanya dan memeluk lengan kiri Nathan dengan manja. “Tahu gini, dari dulu kita nikah sederhana aja,” ucap Nathan santai. “Um... Kenapa?” tanya Cindy sambil mendongak menatap profil samping wajah suaminya. “Ya... lebih cepat dan mungkin lebih banyak waktu kita buat hal yang lebih baik daripada menyenangi orang lain dengan pesta mewah,” ucap Nathan jujur. “Dan berakhir di sidang cerai kita,” ucap Cindy lirih, mengingat kembali masa-masa p
Read more