Rumah kontrakan itu tetap sama bentuknya—lantai parket, sofa abu, cat krem, dan mainan dinosaurus yang tersebar acak karena Nathan selalu hebat dalam hal imajinasi.Yang berubah hanya udara di dalamnya.Dingin dan hampa. Tidak ada lagi kemesraan, tidak ada lagi tawa tulus penuh kebahagiaan.Seperti pagi ini.Anita bangun lebih dulu melakukan rutinitas sehari-hari, meski tidak ada lagi “seperti biasa” yang sebenarnya.Ia memasak telur orak-arik, memotong roti, dan mengisi botol susu Nathan.Rutinitas menyelamatkan Anita dari pikiran dan perasaan yang bergejolak tentang perpisahan dengan Rex.Rex muncul beberapa menit kemudian, rambut basah, kaus abu-abu, mata merah karena kurang tidur.Anita tidak menatap, hanya menyodorkan piring.“Telurnya sempat gosong di bagian bawah, maaf,” katanya.Kalimat biasa. Netral. Aman.Nathan memecah keheningan, “Mami… dinosaurus Papi mana?”Rex tersenyum tipis. “Ada di mobil, nanti Papi ambil.”Nathan tertawa lalu ngoceh soal T-Rex yang baik
Last Updated : 2026-01-31 Read more