Bandung, lima tahun kemudian.Di suatu pagi, rumah putih gading itu tidak pernah benar-benar sunyi.Bukan karena suara televisi maupun suara musik dari radio.Tapi karena dua suara laki-laki kecil yang tidak pernah sepakat soal apa pun—kecuali satu hal yaitu siapa yang paling dekat dengan Mami.“Zhai curang!”“Enggak! Abang yang duluan!”Nathan—tujuh tahun, lebih tinggi, lebih logis, merasa paling benar—berdiri dengan tangan di pinggang.Zhaisan—lima tahun, rambutnya sedikit bergelombang seperti Rex waktu kecil—menggenggam mobil mainan seolah itu senjata pembelaan.Anita berdiri di dapur dengan apron luxury berbahan satin, berusaha menahan tawa.“Stop dulu,” katanya lembut tapi tegas. “Satu-satu cerita sama Mami, ada apa sebenarnya ini?”Nathan menunjuk adiknya.“Dia bilang Mami cuma punya satu anak.”Zhaisan menggeleng cepat.“Aku cuma bilang Mami paling sayang aku.”Anita pura-pura berpikir.“Hmm… Mami punya dua anak. Dua-duanya paling disayang.”Nathan menyipitkan m
Last Updated : 2026-02-16 Read more