Di kamar rumah baru itu, Anita terbangun dengan rasa nyeri yang tidak lagi bisa disangkal.Bukan nyeri tajam.Lebih seperti gelombang yang datang, pergi, lalu kembali dengan jeda yang makin pendek.“Pi,” panggilnya pelan.Rex yang sejak semalam setengah terjaga langsung bangkit. Rambutnya berantakan, kausnya kusut, matanya langsung fokus.“Kenapa? Kamu sakit? Perut?”Ia sudah meraih ponsel bahkan sebelum Anita menjawab.“Kontraksi,” ucap Anita singkat. Jujur. Tenang.Kata itu—kontraksi—jatuh seperti tombol panik.Rex berdiri terlalu cepat, hampir tersandung karpet.“Oke. Oke. Kita ke rumah sakit. Sekarang. Sekarang juga.”Ia mondar-mandir, mengambil tas yang sudah disiapkan sejak dua minggu lalu—kemudian membukanya lagi, memastikan isinya, menutupnya, membuka lagi.Anita memperhatikan suaminya dengan napas teratur, meski gelombang berikutnya datang dan membuat jemarinya menggenggam seprai.“Pi,” katanya lagi, lebih pel
Terakhir Diperbarui : 2026-02-15 Baca selengkapnya