Kiara menangis di dadaku, tubuhnya gemetar menahan isak tangis yang sudah ditahannya selama berhari-hari."Sudah... sudah..." bisikku sambil mengusap rambutnya lembut.Ia mendongak, menatapku dengan mata berkaca-kaca. Senyum tipis mulai muncul di bibirnya yang pucat."Aku takut kamu gak akan datang," ucapnya lirih. "Aku takut harus menikah dengan Adrian.""Gak akan," kataku tegas sambil menggenggam tangannya. "Aku gak akan kemana-mana."Di belakang kami, Papa Kiara berdehem pelan. Kami berdua tersentak, sedikit canggung karena masih berpelukan di hadapannya."Ehem," Papa Kiara melipat tangannya di dada. "Aku sudah bilang, aku akan merestui kalian. Tapi dengan catatan."Aku dan Kiara melepaskan pelukan, berdiri berhadapan dengan Papa Kiara."Enam bulan," ulangnya dengan nada serius. "Aku beri kamu waktu enam bulan untuk membuktikan bahwa kamu bisa memberi kehidupan yang layak untuk Kiara. Pekerjaan tetap, penghasilan stabil, dan sikap yang bertanggung jawab.""Saya mengerti, Pak," jawa
最終更新日 : 2026-01-13 続きを読む