Mama Kiara menyentuh bahuku."Radit," bisiknya. "Sudah. Jangan dipaksakan."Aku menatap Kiara sekali lagi. Berharap ada secercah peluang atau harapan.Tapi yang kulihat hanya kebencian dan kekecewaan.Dengan langkah tertatih, aku bangkit. Berjalan menuju pintu dengan tubuh terasa berat.Di ambang pintu, aku berhenti. Berbalik sekali lagi."Aku mencintaimu, Kiara," kataku dengan suara parau. "Dan aku akan selalu mencintaimu. Apapun yang terjadi."Kiara tidak menjawab. Hanya berbalik, membelakangi ku, lalu jatuh ke kasur sambil menangis.Aku keluar dari kamar. Mama Kiara menutup pintu perlahan.Di koridor, aku bersandar ke dinding. Tubuhku merosot ke lantai.Mama Kiara duduk di sampingku, mengelus bahuku."Maafkan aku, Radit," bisiknya. "Aku sudah berusaha...""Makasih, Bu," jawabku sambil mengusap air mata. "Makasih sudah mengizinkan saya bertemu Kiara. Walaupun... hasilnya seperti ini."Kami terdiam dalam keheningan yang berat."Radit," panggil Mama Kiara setelah beberapa saat. "Aku t
Última actualización : 2026-01-23 Leer más