Langit Bali sore itu berwarna jingga keemasan, tapi Alya tidak melihatnya. Ia berdiri di balkon vila mewah, angin laut meniup rambutnya yang hitam panjang.Di tangannya, berkas tebal berisi bukti-bukti yang ia kumpulkan selama enam bulan terakhir. Foto-foto, transfer bank, rekaman suara, email rahasia. Semua tentang Bima.Kejahatan keuangan yang lebih besar dari yang pengadilan tahu. Penipuan perusahaan, pencucian uang melalui yayasan palsu, bahkan koneksi ke jaringan penyelundupan di Batam yang berbau narkoba dan suap pejabat tinggi.Pintu kaca geser terbuka. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun, berpakaian putih rapi, melangkah keluar. Wajahnya datar, mata dingin seperti ular. Ia tidak memperkenalkan diri dengan nama asli. Hanya “Pak Darmawan”, nama sandi yang sudah Alya tahu dari pesan anonim yang diterimanya dua hari lalu.“Anda punya yang kami cari,” kata Darmawan tanpa basa-basi. Suaranya rendah, tenang, tapi mengandung ancaman halus. “Bima bukan hanya mantan suami yang
Magbasa pa