Maya bangun lebih pagi dari biasanya, jam 5 pagi, untuk menyiapkan sarapan sebelum Mama Jessica bangun. Dia ingin membuat kesan baik, ingin menunjukkan bahwa dia mampu, bahwa dia layak untuk Radit.Tapi saat dia keluar dari kamar, Mama Jessica sudah duduk di meja makan dengan secangkir teh, menatap keluar jendela."Mama, Mama sudah bangun? Maaf, saya belum menyiapkan sarapan...""Tidak apa-apa, Maya. Mama memang biasa bangun pagi." Mama Jessica tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke matanya. "Duduk. Ngobrol sama Mama sebentar."Maya duduk dengan gugup, merasakan ini bukan akan jadi obrolan santai."Maya, Mama mau bicara terus terang. Boleh?""Tentu, Mama."Mama Jessica menarik napas panjang."Radit itu anak Mama. Satu-satunya anak Mama. Dan Mama sudah lihat dia... lihat dia hancur. Dua kali. Pertama waktu Kiara meninggal. Kedua waktu pernikahannya dengan Dinda berakhir. Dan setiap kali... Mama yang harus memungut kembali kepingan hidupnya."Maya mengangguk, mendengarkan dengan seri
Read more