Pukul 08.15 pagi. Langit masih mendung, tapi hujan sudah reda menjadi gerimis tipis. Rumah kecil itu dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara.Radit berdiri di depan cermin kamar, mengikat dasi dengan tangan yang sedikit gemetar. Maya membantu merapikan kerah kemejanya, matanya bengkak tapi penuh tekad.“Kamu yakin mau lakukan ini?” tanya Maya pelan.Radit mengangguk. “Ini satu-satunya cara. Kita nggak bisa sembunyi lagi. Kalau aku diam, Richard akan terus mainkan permainannya.”Di ranjang besar, Kara dan Arka masih tidur berpelukan, boneka kelinci di tengah mereka. Wajah Kara masih pucat, ada bekas lakban samar di pipinya. Alya duduk di samping, mengawasi mereka tanpa berkedip.“Anak-anak aku yang jaga di sini,” kata Alya lirih. “Pengawal polisi sudah 12 orang di luar. Mereka aman.”Radit mendekat, mencium kening Kara dan Arka lama sekali. “Papa pergi sebentar ya, Sayang. Papa akan lawan orang jahat ini supaya kita bisa hidup tenang.”Kara menggeliat, matanya terbuka sedikit.
Last Updated : 2026-05-20 Read more