Hujan deras mengguyur kota sejak sore. Suara air yang membentur atap dan jendela membuat rumah terasa lebih tertutup, lebih sempit. Lampu ruang tamu menyala terang, tapi suasana di dalamnya tetap berat.Radit dan Maya sudah siap sejak jam tiga sore. Kamera kecil di rak buku masih menyala hijau samar. Ponsel cadangan di laci meja sudah merekam. Mereka berdua berpakaian rapi tapi sederhana, seperti orang tua biasa yang menyambut tamu anak. Tapi di balik senyum yang mereka pasang, ada ketegangan yang hampir terlihat.Kara tidak sabar. Sejak pulang sekolah, ia mondar-mandir di ruang tamu, memeriksa trek mobil, menyusun boneka, dan sesekali bertanya, "Arka belum datang ya, Ma?"Maya tersenyum sambil mengusap rambut putrinya. "Sebentar lagi, Sayang. Ingat ya, mainnya sopan. Kalau capek, bilang ke Mama atau Papa."Kara mengangguk cepat, tapi matanya berbinar. "Aku sudah siapin bantal buat Arka di kamar aku. Besok pagi kita sarapan bareng!"Radit hanya bisa tersenyum tipis. Ia melirik jam din
Last Updated : 2026-05-09 Read more