Pagi itu rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Udara pagi yang biasa hangat seolah ikut membeku, seiring detak jam dinding yang terdengar lebih lambat dan berat. Seluruh keluarga telah berkumpul di ruang tamu sejak pukul delapan pagi. Televisi dicabut kabelnya, semua speaker dimatikan, bahkan ponsel Kara disimpan rapat di dalam laci besi yang dikunci Pak Budi, ayahnya.Kara duduk di tengah sofa besar, boneka kelinci kesayangannya didekap erat di dada. Wajah kecilnya pucat pasi, matanya bengkak karena menangis semalaman, tetapi ada ketenangan aneh yang justru membuat Radit semakin gelisah. Maya, ibunya, memegang tangan Kara dari sisi kiri, sementara Alya memegang dari sisi kanan. Arka, adik kecilnya, duduk meringkuk di pangkuan Radit, tak mau lepas sedikit pun.Suasana sunyi. Hanya hembusan napas yang sesekali terdengar.“Papa… sudah jam berapa?” tanya Kara pelan, suaranya hampir hilang.Radit melirik jam di pergelangan tangannya. “Delapan lima
Last Updated : 2026-05-24 Read more