Radit berdiri membeku di balik pintu, jantungnya berdegup keras hingga terasa menyesakkan dada.Di luar, hujan masih mengguyur tanpa ampun. Suara ketukan itu kembali terdengar—pelan, namun tegas, seperti seseorang yang tahu persis bahwa ia akan dibukakan pintu cepat atau lambat.Melalui kamera pintu, wajah Mira muncul samar di bawah tudung hujan yang basah kuyup. Senyum tipis tersungging di bibirnya.“Radit… aku tahu kamu di dalam,” katanya, suaranya terdengar samar tertelan deras hujan. “Ini penting. Untuk Kara.”Radit menoleh ke belakang. Maya berdiri di ujung koridor dengan wajah pucat dan napas tertahan. Ia menggeleng pelan, memberi isyarat agar Radit tidak membuka pintu.Namun Radit tahu, kalau malam ini ia menghindar, Mira akan terus datang.Ia membuka pintu sedikit, hanya cukup untuk berbicara. Angin dingin bercampur percikan hujan langsung menerpa wajahnya.“Apa maumu, Mira?” tanyanya dingin. “Datang jam segini? Kamu sudah gila?”Mira sama sekali tidak terlihat tersinggung. De
Last Updated : 2026-05-14 Read more