ログインRadit berdiri membeku di depan pintu, amplop cokelat tebal itu tergeletak di teras seperti ular berbisa. Tulisan tangan rapi di depannya seolah mengejek: Untuk Kara. Baca sendirian.Hujan gerimis kembali turun pelan, membasahi amplop itu. Radit meraihnya dengan tangan gemetar, seolah kertas itu bisa membakar kulitnya. Ia membalik amplop tersebut. Di belakang ada tulisan kecil:“Isinya lebih jujur dari semua yang Papa kamu katakan. Baca sebelum besok pagi. Kalau tidak, aku kirim ke seluruh sekolah.”Radit merobek amplop itu tanpa membukanya, membuang potongan kertas ke lantai basah. Tapi di dalamnya ada flashdisk kecil berwarna hitam dan selembar kertas lipat.Ia membuka kertas itu di bawah cahaya lampu teras.Kara kecil,Papa kamu bukan pahlawan. Malam sebelum dia koma, dia bilang ke Tante Alya: “Aku lebih suka kamu daripada Maya. Kalau bukan karena Kara, aku sudah pergi lama.” Video di flashdisk ini lengkap. Dengarkan sendiri. Jangan percaya pelukan Papa kamu malam ini. Dia masih sam
Kara duduk diam di kursi belakang aula, tablet kecilnya berada di pangkuan, earphone kecil tersembunyi di telinga kirinya. Matanya melebar, bibirnya bergetar. Video itu sudah berjalan hampir tiga menit.Suara Papa yang berat, suara Tante Alya yang mendesah, kata-kata kasar yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Gambar yang buram tapi cukup jelas untuk membuat perutnya mual. Setiap detik terasa seperti pisau yang diputar pelan di dada kecilnya.“Papa… kenapa…” bisiknya hampir tak terdengar.Di panggung, Radit masih berdiri tegar di depan kamera, suaranya lantang menyelesaikan pidato. Tepuk tangan mulai terdengar. Tapi Kara tak mendengar apa-apa lagi. Dunianya hanya video itu.Maya yang duduk di sampingnya menyadari ada yang salah. Ia menoleh, melihat wajah Kara yang pucat dan air mata yang mengalir tanpa suara. “Kara…?”Maya merebut tablet itu dengan cepat. Layar masih menyala. Video sudah memasuki menit ke-7. Maya langsung mematikan semuanya, tangannya gemetar hebat.“Kara… Sayang… jan
Radit berlari masuk ke kamar seperti orang kesetanan. Maya sudah berdiri di depan meja, wajahnya sepucat mayat, ponsel di tangannya bergetar hebat. Layar ponsel Maya menampilkan notifikasi grup WA orang tua sekolah Kara yang sudah meledak.Grup Orang Tua Kelas 1B Anton Wijaya: Video penting untuk Kara. Orang tua sekalian lihat dulu sebelum anak-anak bangun. Ini bukti siapa sebenarnya Radit Pranata. Lampiran: Full Video 47menit.mp4Belum sempat Radit bereaksi, ponsel Kara di meja samping ranjang berdering notifikasi email masuk. Layar tablet kecil yang sempat dimatikan tadi malam menyala lagi—entah bagaimana Anton berhasil bypass semua blokir.Kara yang masih dalam pelukan Maya langsung menegang. Matanya yang bengkak menatap layar tablet dengan ketakutan yang dalam.“Pa… itu email dari orang jahat lagi ya?” suaranya kecil, tapi ada keberanian aneh di sana. “Kara… Kara mau lihat. Biar Papa nggak usah bayar 20M. Kara kuat kok…”“Tidak!!!” Radit berteriak, suaranya pecah. Ia merebut t
Radit mendorong pintu kamar dengan kasar hingga berdebam. Napasnya tersengal, keringat dingin membasahi punggungnya. Di ranjang besar, Kara duduk setengah bangun, matanya masih mengantuk tapi mulai melebar melihat cahaya tablet kecil di sampingnya.“Pa... ada suara aneh...” gumam Kara pelan, tangan kecilnya meraih tablet itu.Di layar, video sudah memutar 12 detik. Suara Radit yang berat dan desahan Alya samar terdengar dari speaker. Gambar buram tapi cukup jelas—dua orang dewasa di apartemen gelap, pakaian berserakan.Radit merasa dunia berhenti berputar. Ia menerjang maju, merebut tablet dari tangan Kara dan mematikan video itu dengan jari gemetar. Layar langsung hitam.“Kara... jangan lihat, Sayang!” suaranya pecah.Kara mengerjap bingung, wajah kecilnya polos tapi mulai ketakutan melihat reaksi ayahnya. “Itu... suara Papa? Kenapa Papa sama Tante Alya... seperti di video yang kemarin?”Maya yang berlari menyusul dari belakang langsung naik ke ranjang, memeluk Kara erat dari belakan
Meja makan kecil itu dipenuhi tawa untuk pertama kalinya setelah berhari-hari. Kara duduk di pangkuan Radit, memberi makan Arka dengan sendok penuh nasi goreng sambil tertawa kecil setiap kali adiknya menggumam “Enak, Kak!” Alya menuang susu untuk kedua anak itu, sementara Maya menyandarkan kepala di bahu suaminya, tangannya menggenggam tangan Radit di bawah meja.“Papa hebat tadi di TV,” kata Kara sambil menyuap sendiri. “Kara lihat Papa bilang ‘aku nggak takut’. Kara juga nggak takut lagi kok, Pa. Karena Papa dan Mama jagain Kara sama Arka.”Radit tersenyum, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. Di saku celananya, ponsel terasa panas seperti bara. Pesan dari nomor tak dikenal itu masih terbuka di layar yang gelap.“Kamu kira Richard cuma punya satu tangan? Aku masih punya rekaman asli malam terakhirmu dengan Alya—yang bahkan Richard tidak tahu. Besok pagi, kalau tidak ada 20M ke rekening ini, rekaman itu akan dikirim ke Kara langsung. Selamat menikmati kemenanganmu yang rapuh, Radi
Pukul 08.15 pagi. Langit masih mendung, tapi hujan sudah reda menjadi gerimis tipis. Rumah kecil itu dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara.Radit berdiri di depan cermin kamar, mengikat dasi dengan tangan yang sedikit gemetar. Maya membantu merapikan kerah kemejanya, matanya bengkak tapi penuh tekad.“Kamu yakin mau lakukan ini?” tanya Maya pelan.Radit mengangguk. “Ini satu-satunya cara. Kita nggak bisa sembunyi lagi. Kalau aku diam, Richard akan terus mainkan permainannya.”Di ranjang besar, Kara dan Arka masih tidur berpelukan, boneka kelinci di tengah mereka. Wajah Kara masih pucat, ada bekas lakban samar di pipinya. Alya duduk di samping, mengawasi mereka tanpa berkedip.“Anak-anak aku yang jaga di sini,” kata Alya lirih. “Pengawal polisi sudah 12 orang di luar. Mereka aman.”Radit mendekat, mencium kening Kara dan Arka lama sekali. “Papa pergi sebentar ya, Sayang. Papa akan lawan orang jahat ini supaya kita bisa hidup tenang.”Kara menggeliat, matanya terbuka sedikit.







