Kamis pagi itu, udara di Khazanah terasa seberat timbal. Dimas berdiri di pojok etalase, sibuk menata botol-botol amber, sementara Azura berada di kutub seberang, membelakanginya sambil mencatat inventaris. Bibir Dimas bergerak tanpa suara, mengulang mantra yang sudah ia susun semalaman: "Azura, mumpung besok libur, bagaimana kalau kita ajak Eyang jalan-jalan?"Tiba-tiba, sebuah tangan sebesar daun talas mendarat di bahunya. Dimas nyaris menjatuhkan botol parfumnya."Dimas, ayo makan siang," ajak Pak Badar. Dimas melirik jam dinding. Aduh waktu jaga Azura hampir habis. Kesempatanku akan hilang, batinnya. "Saya ... baru saja makan, Pak." Dimas mencoba menolak."Ah, kalau begitu kita makan snack saja," Pak Badar terus membujuk.Semoga masih sempat. Dimas menghela napas. Menanggalkan celemeknya. Di ambang pintu, langkahnya mendadak kaku; ia memutar kepala, melemparkan tatapan kepada Azura sejenak, lalu melangkah keluar mengikuti langkah tegap Pak Badar. Tanpa disadarinya, mata jernih A
آخر تحديث : 2026-02-24 اقرأ المزيد