Diana duduk tegak di balik meja kerjanya, jemarinya bergerak cepat membalik halaman demi halaman laporan rumah tangga Istana Putra Mahkota. Lampu minyak di sudut ruangan memantulkan cahaya hangat, namun tak mampu sepenuhnya mengusir rasa penat yang menempel di pelipisnya. Mendekati musim dingin, jumlah keperluan yang harus diatur meningkat drastis—persediaan kayu bakar, kain tebal untuk pelayan dan penjaga, obat-obatan penghangat tubuh, hingga penyesuaian jatah makanan agar cukup bergizi di tengah cuaca dingin yang segera datang.Biasanya, Diana bisa tenggelam sepenuhnya dalam pekerjaan seperti ini. Angka-angka, daftar, dan perencanaan selalu memberinya rasa kendali. Namun malam ini, entah mengapa, fokusnya terus terpecah.Tatapannya sesekali melirik ke arah jendela, ke arah langit yang telah berubah gelap sepenuhnya.Arthur belum kembali.Kertas di tangannya terhenti. Diana menghela napas pelan, lalu menoleh ke arah Bibi Erna yang berdiri tak jauh darinya, sibuk mengawasi pelayan
Last Updated : 2026-01-24 Read more