Accueil / Zaman Kuno / Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa / Bab 100. Langit Harem Yang Runtuh

Share

Bab 100. Langit Harem Yang Runtuh

Auteur: nanadvelyns
last update Date de publication: 2026-01-28 00:02:00

Berbanding terbalik dengan Istana Putra Mahkota yang malam itu diselimuti ketenangan rapuh, Istana Kaisar justru bergolak dalam ketegangan yang hampir mencekik napas.

Langit di atas Harem Tengah seakan lebih rendah dari biasanya, awan kelabu menggantung berat, seolah ikut menekan setiap insan yang berada di dalamnya.

Dua hari sebelumnya, kabar kehamilan Karin—selir baru dengan peringkat paling rendah—menjadi topik hangat di balik tirai sutra.

Tabib Istana sendiri
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 219. Darah di Atas Sutra Permaisuri

    Udara di dalam Paviliun Kediaman Permaisuri terasa begitu kering, membawa aroma campuran dari rempah-rempah yang direbus dan wangi kayu cendana yang biasanya menenangkan. Namun bagi Diana, aroma itu kini hanya menambah rasa sesak di dadanya. Di atas meja jati yang luas, berbagai macam botol porselen kecil berisi pil herbal dan ekstrak tanaman penguat stamina tertata rapi. Diana memasukkannya satu per satu ke dalam kotak kayu berlapis beludru dengan gerakan yang lambat namun pasti."Uhuk! Uhukk!"Diana terpaksa berhenti. Ia memegangi pinggiran meja, tubuhnya sedikit membungkuk saat batuk itu kembali menyerang. Rasa perih menjalar di tenggorokannya, seolah ada duri yang tersangkut di sana."Yang Mulia!" Embun segera mendekat, tangannya gemetar saat mencoba mengusap punggung Diana.Di sisi lain, Bibi Erna berdiri dengan wajah yang kian hari tampak kian menua karena kecemasan yang mendalam. "Apa tidak sebaiknya

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 218. Tradisi Kuil Fan Gu

    Denada membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah kekosongan yang dingin di sisi tempat tidurnya. Alon sudah tidak ada di sana. Ia bangkit dari posisi meringkuknya. Tubuhnya terasa kaku, bukan karena aktivitas fisik, melainkan karena ketegangan mental yang ia tahan sepanjang malam. Pakaian tidur sutranya yang robek masih tersampir di bahunya, sebuah pengingat bisu tentang betapa rendahnya harga dirinya di mata pria yang baru saja menjadi suaminya. Denada menatap kain yang terkoyak itu dengan pandangan hampa. Tidak ada air mata lagi pagi ini; yang tersisa hanyalah kedinginan yang membeku di dalam dadanya. Ia segera memanggil pelayan untuk menyiapkan pemandian. Di dalam bak kayu besar yang mengepulkan uap air hangat beraroma bunga krisan, Denada menggosok kulitnya dengan keras, seolah-olah ia bisa menghapus jejak sentuhan kasar dan aroma alkohol yang masih terasa menghantui indranya. Ia mem

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 217. Bayangan di Atas Ranjang Pualam

    Angin malam di wilayah Debi menderu melewati celah-celah pilar batu Istana Agung, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di dalam ruang kerja kekaisaran yang luas, suasananya jauh dari kata megah. Botol-botol porselen berisi arak gandum yang keras berserakan di atas meja jati, beberapa di antaranya sudah terguling dan menumpahkan isinya, membasahi dokumen-dokumen militer yang seharusnya menjadi prioritas utama sang penguasa baru. Alon duduk merosot di kursi kebesarannya. Mahkota naga peraknya diletakkan sembarangan di sudut meja, sementara rambut hitamnya berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang kini merah padam akibat pengaruh alkohol. Matanya yang biasanya tajam dan penuh perhitungan kini tampak sayu, namun berkilat dengan emosi yang gelap dan menyakitkan. "Diana..." gumam Alon, suaranya lemah dan parau. Ia mencengkeram sebuah botol alkohol di tangannya seolah-olah be

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 216. Arthur Demam

    "Aku mengganggumu?" tanya Arthur.Suaranya tidak setegas biasanya, ada nada serak yang terselip di balik baritonnya yang berat. Ia masih berdiri di ambang pintu, menatap Diana dengan mata yang tampak sedikit sayu.Diana memaksakan sebuah senyum tipis—jenis senyum yang ia gunakan untuk meyakinkan pasien bahwa semuanya akan baik-baik saja, meski ia tahu kenyataannya berbeda. Ia merapatkan tangan di dalam lengan baju hanfu-nya, memastikan sapu tangan bernoda darah itu tersembunyi jauh di balik lipatan kain."Tentu saja tidak, Yang Mulia," jawab Diana lembut. Ia melangkah mendekat, mencoba menutupi kegugupannya. "Ada apa? Bukankah seharusnya Anda masih berada di ruang strategi bersama Perdana Menteri Mahen?"Arthur tidak menjawab. Ia justru melangkah maju dengan gerakan yang sedikit lunglai. Begitu sampai di depan Diana, ia tidak mengatakan sepatah kata pun, melainkan langsung menjatuhkan kepalanya di bahu Diana.

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 215. Waktu Yang Menyempit

    Suasana di Aula Harem mendadak mencekam setelah kalimat tajam Isabella terlontar. Denada, yang duduk di singgasana Permaisuri, merasakan tenggorokannya mendadak gatal dan kering. Ia terbatuk pelan, sebuah reaksi fisik yang coba ia samarkan dengan mengangkat telapak tangannya yang terbalut lengan baju sutra lebar.Setelah berhasil menguasai diri, Denada menarik napas panjang. Ia berusaha menjaga martabatnya sebagai pemimpin tertinggi harem, meskipun guncangan di hatinya belum sepenuhnya reda. Ia kembali memaksakan sebuah senyum tenang, sebuah topeng yang telah ia pelajari sejak kecil di kediaman Raja Debi."Adikmu?" tanya Denada dengan nada ringan, seolah-olah ia hanya sedang mendiskusikan cuaca. "Siapa yang kau maksud, Selir Kehormatan? Aku tidak tahu kalau keluarga Sinclair memiliki putri lain yang kau anggap begitu berkesan."Isabella tidak langsung menjawab. Ia justru tertawa kecil—suara tawa yang terdengar hampa dan sediki

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 214. Denada

    Di dalam paviliun utama yang megah, Denada duduk dengan tenang di depan meja makan kayu hitam yang dipoles hingga mengilap. Di hadapannya tersaji mangkuk porselen putih berisi sup ayam dengan irisan ginseng dan beberapa piring kecil berisi kudapan ringan.Cucu, pelayan pribadinya yang paling setia, bergerak dengan cekatan di sampingnya. Gadis itu mengenakan seragam pelayan istana yang baru, tampak sedikit gugup namun berusaha memberikan pelayanan terbaik. Ia menuangkan teh melati hangat ke dalam cangkir giok milik Denada dengan tangan yang sedikit gemetar."Kaisar menolak datang?" tanya Denada pelan. Suaranya datar, tanpa nada kekecewaan sedikit pun, seolah ia sudah mengetahui jawaban itu sebelum pertanyaannya terucap.Gerakan tangan Cucu terhenti sejenak. Ia meletakkan teko keramik itu dengan hati-hati, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Raut wajahnya tampak sedih, seolah ia sendiri yang merasakan kepahitan dari penolaka

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 38. Duri Di Balik Mawar Putih

    “Apa tanganmu baik-baik saja?”Suara Alon terdengar lembut, sarat kecemasan yang tampak tulus di permukaan. Matanya yang biasanya teduh kini tertuju penuh pada tangan kanan Diana yang dibalut kain sobekan milik Arthur. Warna merah darah masih merembes perlahan, kontras dengan kain gelap yang meli

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-20
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 36. Darah Di Aula Kekaisaran

    “Nona Rany? Ah… senang bertemu dengan Anda.”Diana menanggapi dengan senyum tipis yang terjaga rapi. Nada suaranya lembut, tetapi langkah kakinya sedikit bergeser—secara halus menempatkan tubuhnya agar Rany berada di antara dirinya dan Alon. Sebuah gerakan kecil, nyaris tak kentara, namun cukup j

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-20
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 41. Bakpao Daging Kukus di Antara Retak Kepercayaan

    "Sebenarnya ada apa denganmu? Bicaralah, jangan kekanakan seperti ini!"Nada suara Arthur terdengar dingin dan tajam, namun jelas tertahan oleh frustasi yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Tangannya masih mencengkeram lengan Diana, meskipun genggamannya tak sekeras sebelumnya.

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-20
  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 43. Kepercayaan yang Dinyatakan di Balik Pintu Tertutup

    Diana mengenakan hanfu berwarna ungu gelap yang menjuntai anggun mengikuti setiap langkahnya. Warna itu membuat kulitnya tampak semakin pucat dan sorot matanya semakin tegas. Rambutnya disanggul sederhana, tanpa perhiasan berlebihan, hanya sebuah jepit emas kecil yang menahan helaian rambut agar

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-20
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status