Kereta kuda melaju perlahan meninggalkan Istana, roda-rodanya berderit lembut di atas jalan batu yang mulai memutih. Diana duduk di dekat jendela, tirainya sedikit ia singkap, matanya sibuk mengintip ke luar sepanjang perjalanan. Sejak gerbang istana tertutup di belakang mereka, wanita itu seolah tak bisa diam, memperhatikan setiap perubahan di luar—atap rumah, cabang-cabang pohon, dan jalanan yang semakin sepi.Arthur tidak mengatakan apa pun. Ia duduk di seberangnya dengan posisi tegak, punggungnya bersandar sempurna pada kursi, kedua tangannya bertumpu di pangkuan.Di balik topeng emas yang menutupi separuh wajahnya, matanya sesekali memejam, seolah sedang beristirahat. Namun sebenarnya, ia justru memperhatikan Diana dengan saksama—gerak kecil bahunya, cara jemarinya menyentuh tirai jendela, dan ekspresi lembut yang jarang disadari wanita itu sendiri.“Yang Mulia,” suara Diana tiba-tiba terdengar cerah, memecah keheningan di dalam kereta, “salju telah turun!”Arthur membuka mata
Terakhir Diperbarui : 2026-01-31 Baca selengkapnya