Di Istana Pangeran Kedua, suasana sore terasa tenang, hampir terlalu tenang jika dibandingkan dengan hiruk-pikuk yang masih tersisa dari perburuan besar kemarin. Harsa duduk di depan meja rendahnya, menggenggam kuas dengan jemari ramping yang dipenuhi noda tinta dan cat. Di hadapannya terbentang selembar kain putih, kini dipenuhi sapuan warna yang tampak acak—hitam, biru tua, abu-abu, dan semburat merah kecokelatan yang seolah bertabrakan tanpa aturan.Bagi mata awam, lukisan itu tidak memiliki bentuk jelas. Namun bagi Harsa, setiap goresan adalah perasaan yang tidak bisa ia ucapkan, pikiran yang terlalu rumit untuk dirangkai menjadi kalimat.Di belakangnya, seorang bawahan setia berdiri dengan sikap hormat. Jim menunggu dengan sabar, menyesuaikan napasnya dengan ritme kuas sang pangeran, hingga akhirnya Harsa berhenti dan meletakkan kuasnya di sisi meja.“Laporkan,” ujar Harsa tanpa menoleh.Jim segera membungkuk sedikit. “Yang Mulia,” katanya, “saya akan melaporkan kejadian-keja
Last Updated : 2026-01-23 Read more