Kegelapan itu kembali. Kali ini terasa lebih dingin, lebih hampa, dan lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Diana merasa seolah-olah jiwanya sedang dipreteli satu per satu oleh keheningan yang absolut. Ia tidak bisa merasakan berat tubuhnya, tidak bisa mencium aroma obat-obatan yang tadi mengerumuninya, bahkan ia tidak bisa merasakan tendangan kecil di perutnya."Di mana aku?" gumamnya, namun suaranya tidak bergema. Ia hanya berupa titik kesadaran di tengah kekosongan.Tiba-tiba, sebuah titik cahaya muncul di kejauhan. Awalnya hanya seukuran jarum, namun dengan cepat membesar hingga menyilaukan mata. Cahaya itu memancar dengan warna putih keperakan yang murni, membawa serta gelombang energi yang terasa sangat familiar. Bersamaan dengan cahaya itu, sebuah suara yang sangat ia kenali—suara yang merupakan pantulan dari suaranya sendiri—terdengar memecah sunyi."Kau terlalu keras kepala, Diana. Sudah kukatakan, bukan? T
Baca selengkapnya