Ruangan luas yang biasanya sunyi itu kini dipenuhi aroma wangi bunga lili dan dupa cendana yang menenangkan. Diana duduk di atas kursi kebesaran yang terbuat dari kayu cendana merah berukir phoenix emas. Di sisi kanannya, sebuah kursi yang tak kalah megah diisi oleh Karin, sang Ibu Suri, yang mengenakan jubah sutra berwarna ungu tua dengan sulaman benang perak yang sangat detail.Diana menarik napas perlahan, mencoba mengendalikan rasa sesak yang sesekali menghantam dadanya. Ia mengenakan hanfu berlapis warna biru langit dengan aksen putih, memberikan kesan tenang namun tak terjangkau. Meskipun riasannya cukup tebal untuk menutupi pucat di wajahnya, mata biru pucatnya tetap memancarkan ketajaman yang membuat siapa pun yang menatapnya merasa segan.Karin, yang sejak tadi memperhatikan Diana dari samping, mencondongkan tubuhnya sedikit. Tatapannya penuh dengan gurat kecemasan seorang ibu. "Permaisuri, kau benar-benar baik-baik saja? Wajahmu tampak sedikit lebih lelah dari biasanya.
Read more