Di tengah aula yang kini lengang setelah amukan Alon mereda, Isabella Sinclair berdiri tegak dengan keanggunan yang mengerikan. Ia mengusap punggung tangannya yang baru saja ditepis kasar oleh Denada, memijat jemarinya dengan gerakan tenang, seolah rasa perih itu hanyalah gangguan kecil yang tak berarti.Matanya yang biru pucat—warna yang selalu mengingatkan Denada pada langit musim dingin yang membeku—menatap sang Permaisuri dengan tatapan yang sangat dingin."Anda hanya akan bisa mati membusuk jika terus-menerus bersikap seperti ini, Yang Mulia Permaisuri," ucap Isabella. Suaranya rendah, namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris keheningan.Denada, yang masih merasakan panas di pipinya akibat tamparan Alon, tersentak. Ia segera bangkit berdiri, meskipun tubuhnya masih gemetar karena gejolak emosi. Ia merapikan jubahnya yang berantakan dengan gerakan kasar, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa martabatnya yang baru saja diinjak-injak."Kau pikir dirimu pantas berbicara sepe
Read more