Bab 116: Warisan LukaMalam di kediaman Bima terasa begitu mencekam. Isak tangis Ratih belum juga reda, suaranya parau, menyisakan sesak yang menghimpit dada. Jenazah Aliando sudah sampai di rumah, dibaringkan di ruang keluarga. Suara lantunan ayat suci terdengar dengan lembut dari mulut beberapa orang santri yang sengaja khusus diundang ke rumah ini.Di sudut kamar tamu, kamar yang pernah ditempati oleh Aliando, Bima masih setia memeluk istrinya, berkali-kali dia mengecup kening perempuan itu, membisikkan kalimat penuh penghiburan, "Papa kuat, Sayang. Papa sudah tenang di sana.""Akunya yang nggak tenang Aku belum minta maaf sama Papa. Aku udah usir Papa, sehingga Papa kena serangan jantung. Aku yang salah....""Percayalah pada takdir, Sayang. Semua berada di luar kendali kita. Aku tahu, kamu nggak salah. Kamu hanya emosi, karena tak tahan melihat perselingkuhan ibu tiri kamu, sementara papa kamu terlihat begitu mencintai Atika. Papamu nggak percaya kan, jika Atika sudah berselingku
続きを読む