Bab 132: Cawan KemenanganAtika mengusap keringat di dahi dengan punggung tangannya yang gemetar. Kalimat Desti tentang "bau sial" masih terngiang, namun ia memilih menutup telinga. Dengan gerakan mekanis, ia menyelesaikan pekerjaannya mengepel lantai, kemudian membersihkan taman depan hingga punggungnya terasa kaku.Lelah sekali hari ini. Tapi Atika tidak mau mengeluh. Mau mengeluh pun juga percuma, emangnya siapa yang mau mendengar keluhannya?Atika bekerja kepada Desti karena terpaksa, karena tidak ada lagi orang yang mau menerima jasanya. Sudahlah, lagi pula selama ini Desti tidak pernah main tangan, atau melakukan penganiayaan fisik, hanya kata-katanya memang tajam, dan Atika mau tidak mau harus menelan ucapan pahit itu.Sekali lagi, Atika tidak punya pilihan. Setelah menerima upah harian yang lusuh dari tangan Desti, ia melangkah pulang menembus senja yang mulai temaram.Begitu pintu kontrakan terbuka, suasana dingin langsung menyergap. Moana duduk di lantai, bersandarkan d
Read more