Wildan melangkah satu tindak ke depan, memosisikan tubuh tegapnya sebagai pembatas fisik yang mutlak, memutus kontak mata intimidatif antara Fiona dan Meysa. Wajah Wildan kini tampak sangat serius, topeng dinginnya mengeras, dan aura kepemimpinan yang biasanya ia gunakan untuk menundukkan penulis-penulis bermasalah kini terpancar kuat di koridor rumah sakit yang sunyi."Cukup, Fiona," potong Wildan tegas. Suaranya tidak keras, namun memiliki bobot yang sanggup membungkam keriuhan di sekitarnya. "Kita sedang berada di instansi medis, bukan di meja redaksi untuk berdebat soal performa penulis atau masalah operasional kantor."Wildan menatap Fiona lurus-lurus, seolah sedang membedah naskah yang penuh lubang logika. Ia mengunci pandangan wanita itu dengan sorot mata yang menuntut penjelasan. "Sebenarnya, ada satu hal yang terus mengganjal di pikiranku sejak semalam. Fiona, tolong katakan padaku, sebetulnya kenapa kamu jadi mendadak benci sekali pada Meysa? Kenapa kamu terus-menerus menco
Last Updated : 2026-01-20 Read more