"Kok tanya gitu sih?" Wildan membalas tatapan Meysa dengan kening yang sedikit berkerut. Matanya yang tajam, yang biasanya digunakan untuk membedah cacat logika dalam naskah, kini menatap Meysa seolah-olah gadis itu adalah teka-teki paling rumit yang pernah ia temui.“Ya tanya saja …,” jawab Meysa dengan suara parau, hampir berbisik. Ia menarik ujung selimut, mencoba menutupi kegelisahan yang mendadak muncul.Wildan merasa ada yang aneh. Baru saja mereka berbagi kehangatan yang meluluhkan dinding es di antara mereka, tapi kenapa Meysa masih tampak membutuhkan validasi lewat kata-kata? Bagi Wildan, tindakan seharusnya sudah cukup mewakili segalanya. Namun, ia lupa bahwa bagi seorang penulis romansa seperti Meysa, kata-kata adalah nyawa.“Hanya tanya …? Kamu meragukan aku, Meys?” tanya Wildan lagi. Suaranya datar, namun ada nada defensif yang khas, sebuah mekanisme perlindungan diri karena ia merasa "dilecuti" secara emosional.“Aku nggak meragukan kamu, Wil. Aku cuma tanya,” ulang Meys
Terakhir Diperbarui : 2026-01-30 Baca selengkapnya