Mobil mewah berwarna hitam itu melaju membelah jalanan Puncak yang berkelok. Di dalamnya, hawa dingin dari AC yang menderu halus tidak mampu mendinginkan gejolak emosi di hati Fiona. Ia duduk bersandar, namun jemarinya tidak bisa diam, terus memainkan kuku-kuku cantiknya dengan gelisah.Pak Adam, yang duduk di sampingnya sambil sesekali mengecek tablet kerja, akhirnya menyadari ketidaktenangan keponakannya itu. Beliau menaruh tabletnya, lalu menoleh."Kamu kenapa, Fio? Dari tadi Om lihat kamu tarik nafas panjang terus. Kursinya nggak nyaman? Atau Pak Mamat bawa mobilnya terlalu kasar?" tanya Pak Adam pada sopir pribadi yang sedang fokus mengemudi di depan."Eh? Nggak kok, Om. Pak Mamat bawa mobilnya enak, kok," jawab Fiona cepat, mencoba memaksakan senyum kecil.Pak Adam tertawa pendek, suara tawanya terdengar berwibawa namun tetap hangat. "Jangan bohong sama Om. Om kan paman kamu yang kenal kamu dari kecil, Fio. Kalau ada masalah, ngomong saja. Nggak perlu risau, kamu kan punya Om. A
Dernière mise à jour : 2026-01-11 Read More